Ecological Multimodal Therapy (EMT) Sebagai Sebuah
Pendekatan Bagi Konseling Remaja
SEBUAH
PENDEKATAN ECOLOGICAL MULTIMODAL TERHADAP KONSELING REMAJA
Tujuan utama artikel kami adalah untuk mengintroduksi ecological multimodal
therapy (EMT) sebagai satu pendekatan bagi konseling remaja. Konsep-konsep
teoritis utama EMT diambil dari multimodal therapy (MMT), sebuah pendekatan
konseling yang secara teknis dipilih dari berbagai sumber yang dikembangkan
oleh Arnold Lazarus (1989). Walaupun MMT merekognisi arti penting dimensi
interpersonal dalam fungsi-fungsi kepribadian dan proses konseling, kami
meyakini bahwa dimens ini tidak diberikan atensi yang mencukupi dibandingkan
dengan dimensi-dimensi intra-individu (misalnya, perilaku, mempengaruhi,
imajinasi, dan kognisi). Untuk menjadikan MMT secara kultural lebih relevan
dalam masyarakat Asia yang tersusun dalam sebuah hirarki sosial yang rinci dan
jaringan interpersonal yang ekstensif, kami merekomendasikan melakukan MMT,
dengan memperluas dimensi interpersonalnya, didalam sebuah kerangka ekologis
yang dikembangkan oleh Lee (1999). Kami menyebut pendekatan konseling
integratif ini sebagai ecological multimodal therapy (EMT). Dalam artikel
ini, konsep-konsep kunci dari terapi multimodal (Lazarus, 1989) dan ecological
multimodal therapy pertama kali didiskusikan, diikuti dengan sebuah studi kasus
yang menguraikan aplikasi ecological multimodal therapy.
MULTIMODAL THERAPY.
Latar belakang.
Perkembangan MMT secara historis terkait dengan gerakan integrasi psikoterapi
sejak 1930-an di Amerika Utara dan Inggris (lihat Hollanders, 2000a, 2000b)
berdasarkan pada keyakinan bahwa tidak ada teori atau pendekatan tunggal yang
memadai untuk menjawab kerumitan isu-isu manusia. Ironisnya, gerakan ini tidak
mengakhiri kondisi berperang dalam bidang konseling namun memunculkan
model-model integratif berbeda sejak para teoritikus berbeda mempunyai
gagasan-gagasan berbeda seperti bagaimana integrasi seharusnya dilakukan.
Umumnya ada tiga pendekatan terhadap
integrasi psikoterapi:
(a) faktor-faktor umum;
(b)
integrasionisme; dan
(c)
eclecticism / sistem filsafah yang menggunakan pemilihan
(dari berbagai sumber) (Fischer, 1978; Grencavage & Norcross, 1990 , 1992 ; Hollanders, 2000b; Karasu, 1986;
Norcross, 1987; Norcross &Grencavage, 1989; Norcross & Newman, 1992;
O’Brien & Houston, 2000).
Tujuan
dari faktor-faktor umum adalah untuk mengembangkan metode-metode konseling
berdasarkan pada bahan-bahan inti yang dimiliki umumnya teori-teori berbeda. Integrationisme
berupaya untuk mengidentifikasi persamaan-persamaan untuk pada akhirnya
membentuk sebuah teori komprehensif baru. Eclecticism tidak bertujuan untuk
mengembangkan sebuah teori komprehensif baru namun untuk mengintegrasikan satu
rentang tehnik-tehnik yang luas yang diambil dari berbagai teori. MMT adalah
salah satu bentuk eclecticism yang bekerja didalam sebuah kerangka
kognitif-perilaku, meskipun terbuka dalam penggabungan fleksibelnya dengan
tehnik-tehnik lain tanpa menyumbang ppada teori-teori mendasar mereka. Sebagai
contoh, konselor dapat menggunakan meditasi transendental, dimana
efektivitasnya ditunjukkan secara empiris (lihat Murray, 2002), sebagai bagian
dari program manajemen stres tanpa menyumbang pada filosofi timurnya. Sebisa
mungkin, hanyak tehnik-tehnik yang diambil dari laboratorium atau divalidi
secara empiris yang dapat digunakan dalam konseling kecuali mereka gagal untuk
mencapai hasil-hasil yang dikehendaki atau mereka tidak eksis untuk merawat
gangguan emosional tertentu.
Hubungan-hubungan konseling.
Namun, penekanan pada tehnik-tehnik dalam MMT tidak mengabaikan arti penting
hubungan therapeutic (mengobati). Tehnik-tehnik tidak akan efektif bila tidak
ada kepercayaan, hubungan, dan aliansi antara konselor dan klien. Merespon
secara empatik, mendengarkan secara aktif, saling menghormati atau penghargaan
positif tanpa syarat (Rogers, 1961) adalah sikap-sikap dan
ketrampilan-ketrampilan esensiil untuk membangun sebuah hubungan efektif dengan
klien. Konselor harus melihat klien sebagai seorang partner aktif dalam proses
konseling. Ketimbang menempatkan klien kedalam sebuah kerangka yang sudah
ditetapkan sebelumnya, konselor harus merekognisi bahwa setiap klien adalah
unik dan membutuhkan perlakuan-perlakuan yang dipersonalkan. Pertanyaan
esensiil yang biasanya diajukan konselor multimodal adalah: “Apa
perawatan/perlakuan, oleh siapa, yang paling efektif bagi klien ini, dengan
masalah spesifik tersebut, dalam kondisi-kondisi bagaimana?” (Paul dikutip di
dalam Hollanders, 2000a: 3).
Lazarus (1989) mengobservasi bahwa ketika para konselor mematuhi satu orientasi
teoritis maka mereka cenderung mengadopsi gaya-gaya interpersonal yang identik
bagi semua klien. Para konselor berorientasi psikoanalitis secara khas
mengambil sebuah peran anonim dan mempertahankan kenetralan. Mereka sangat
sedikit mengungkapkan diri mereka hanya untuk memfasilitasi pemindahan. Para
konselor Rogerian, sebaliknya, cenderung untuk menjadi hangat dan lembut
sehingga para klien mereka mampu untuk menggali perasaan dan
keyakinan-keyakinan mereka dalam atmosfer yang tidak mengancam. Namun,
penggunaan gaya interpersonal yang sama dengan semua klien mengabaikan
kebutuhan-kebutuhan dan ekspektasi-ekspektasi para klien. Para klien yang
memilih sebuah pendekatan yang lebih aktif pada masalah-masalah mereka dan
mempunyai ekspektasi para konselor mereka memberikan mereka saran dan arahan
yang konkrit dapat menemukan bahwa pendekatan non-direktif dari terapi
berpusat-orang tidaklah efektif. Para klien yang menginginkan seseorang untuk
mendukung dan mendengarkan mereka mungkin menemukan terapi-terapi
berpusat-tindakan (misalnya, terapi perilaku) tidaklah membantu dan tidak
sensitif. Pendekatan unimodal (satu perasaan), yang mengasumsikan bahwa semua
klien mau menerima satu gaya interpersonal, kemudian terbatas. Lazarus (1993)
mengemukakan bahwa para klien mempunyai kebutuhan-kebutuhan dan
ekspektasi-ekspektasi berbeda dan membutuhkan rentangan gaya-gaya interpersonal
yang luas dari para konselor mereka. Dalam sebuah sesi konseling multimodal,
gaya interpersonal konselor berubah-rubah terhadap satu klien dengan klien
lainnya. Gaya interpersonal fleksibel ini, yang disebut “bunglon otentik” dalam
MMT, khususnya relevan pada konseling lintas-kultural dimana para klien dari
latar belakang kultural berbeda cenderung memegang ekspektasi-ekspektasi
berbeda mengenai hubungan klien-konselor. Sebagai contoh, dikondisikan di dalam
hubungan sosial hirarkis, para klien China mungkin menjadi bingung dan tidak
nyaman berada dalam hubungan-hubungan konseling yang menganut paham persamaan
dan non-direktif (Lee, 1993). Mereka lebih nyaman bersama dengan para konselor
yang aktif dan memainkan peran sebagai seorang ahli, konsultan atau pemecah
masalah. Para konselor yang direktif dalam konseling dipersepsi lebih ahli
ketimbang para konselor yang non-direktif.
Proses Konseling.
Wawancara awal.
Tujuan-tujuan penilaian adalah untuk mengumpulkan informasi relevan untuk
memahami klien dan masalah-masalah yang dihadapinya, dan mendesain sebuah
program intervensi. Pada wawancara awal, adalah esensiil bagi para konselor
untuk mengumpulkan informasi mengenai pertanyaan-pertanyaan berikut (Lazarus,
1989; Palmer, 2000).
1. Apakah ada tanda-tanda “psikosis”?
2. Apa keluhan-keluhan yang diajukan dan peristiwa-peristiwa utama yang mereka
hadapi?
3. Apakah ada bukti mengenai menyalahkan-diri, depresi, atau tendensi-tendensi
pembunuhan atau bunuh diri?
4. Apakah penampilan klien dalam hal karakteristik-karakteristik fisik,
perawatan diri, cara berbicara, dan sikap? Apakah ada aktivitas motorik yang
terganggu?
5. Apakah faktor-faktor antiseden penting dalam kehidupan klien?
6. Siapa atau apa yang nampak seperti memelihara perilaku maladaptif klien?
7. Apa yang diharapkan diperoleh klien dari konseling?
8. Apakah ada indikasi-indikasi jelas atau kontraindikasi untuk adopsi
gaya-gaya konseling tertentu (misalnya., gaya direktif versus non-direktif)?
9. Dapatkan sebuah hubungan yang sama-sama memuaskan dibentuk atau haruskah
klien direferensikan ke lain tempat?
10. Apakah atribut-atribut positif dan kekuatan-kekuatan klien?
11. Mengapa klien mencari konseling pada saat ini – mengapa bukan
minggu
lalu, bulan lalu, atau tahun lalu?
12. Apakah klien mempunyai alasan-alasan sah untuk berpengharapan?
13. Apakah klien mempunyai pengalaman sebelumnya dalam konseling? Jika ya,
apakah hasilnya? Apakah ada kesulitasn-kesulitan yang dihadapi? Apakah itu
pengalaman positif, negatif, atau netral, dan mengapa?
14. Apakah ada inidikasi-indikasi seperti pada didalam kepentingan-kepentingan
klien untuk terlihat sebagai bagian dari kumpulan, triad, unit keluarga
dan/atau dalam sebuah kelompok?
Beberapa dari pertanyaan-pertanyaan panduan tersebut juga ditemukan di dalam
prosedur-prosedur wawancara penerimaan standar (lihat Brems, 1999, 2002)
sementara yang lain merefleksikan akar kognitif-perilaku dari MMT (lihat
Bellack & Hersen, 1998), sebagai contoh, pertanyaan-pertanyaan yang
digunakan untuk mengidentifikasi antiseden, perilaku target, dan
konsekuensi-konsekuensi. Disamping pertanyaan-pertanyaan panduan diatas, kami
pikir adalah juga penting untuk mengeksaminasi penyerahan dan masalah-masalah
yang mendasari. Dalam konseling sekolah di Singapura, sebagian besar kasus
bersifat penyerahan dan hanya beberapa self-referred (menyediakan diri).
Berhadapan dengan para klien yang tak berencana memberikan tantangan bagi para
konselor sebab sebagian besar para klien tidak melihat suatu kebutuhan untuk
menghadiri konseling, tidak paham alasan menemui konselor dan, yang paling
buruk, melihat konseling sebagai bentuk hukuman. Dalam sesi konseling pertama,
sejumlah besar waktu dihabiskan dengan klien untuk menggali masalah-masalah
yang diserahkan, memberikan keluhan dan masalah-masalah yang mendasari. Jika
para klien tidak setuju dengan masalah yang diserahkan, maka mereka tidak
melihat suatu kebutuhan untuk konseling, maka tidak ada pembangunan hubungan
dan konseling tidak akan efektif. Sebagai contoh, seorang siswa mungkin
diserahkan oleh gurunya untuk konseling perilaku nakalnya di kelas (masalah
yang diserahkan). Namun, ia mungkin tidak setuju dan menganggap gurunya bias
terhadapnya (mempresentasikan keluhan-keluhan). Eksplorasi lebih jauh dapat
mengungkapkan bahwa “perilaku nakal” klien di sekolah adalah manifestasi dari
kebutuhannya akan perhatian (masalah yang mendasari). Jika konselor memilih
untuk memfokuskan pada “perilaku nakal” tanpa mempertimbangkan keluhan yang
diajukan klien dan masalah yang mendasari, klien tersebut akan menganggap
konseling tersebut tidak relevan.
BASIC ID
Dalam terapi multi modal, masalah-masalah emosional dan psikologis
dikonseptualisasikan sebagai multi dimensional dan multi determined (Lazarus,
1971, 1989). Untuk melakukan perubahan-perubahan pada klien, konselor melakukan
konseling di dalam sebuah penilaian multidimensional dan pendekatan
perawatan/perlakuan.
Lazarus menghipotesiskan bahwa fungsi manusia
tersusun dari tujuh dimensi atau modalitas utama:
a. Behaviour
/ perilaku (B);
b. Affect / mempengaruhi (A);
c. Sensasi (S);
d. Imagery / imajinasi (I);
e. Cognition
/ kognisi (C);
f. Interpersonal
relationship / hubungan interpersonal (I);
g. Drugs/biological functions / fungsi
obat-obatan/biologis (D).
Modalitas-modalitas tersebut dapat dengan
mudah diingat dengan mengambil huruf pertama dari setiap modalitas untuk
membentuk akronim BASIC ID. “Behaviour” menunjuk pada perilaku, tindakan, dan
kebiasaan yang dapat diobservasi. “Affect” menunjuk pada emosi dan perasaan.
“Sensasi” menunjuk pada lima panca indera – visual, auditori, penciuman, rasa,
dan kinestetik. ”Imagery” menunjuk pada memori, mimpi, dan fantasi-fantasi.
“Kognisi” menunjuk pada proses-proses berpikir, keyakinan, nilai, dan
gagasan-gagasan. “Hubungan-hubungan interpersonal” menunjuk pada
interaksi-interaksi dengan orang lain. terakhir, “fungsi-fungsi
biologis/obat-obatan” menunjuk pada fungsi biokimia, perilaku sakit (misalnya,
kondisi-kondisi medis, tipe pengobatan yang diambil) dan perilaku sehat
(misalnya, kebiasaan nutrisional, olah raga). Sama dengan model biopsikososial
(Engel, 1980), model BASIC ID mengajukan bahwa fungsi-fungsi, kesehatan, dan
sakit manusia merupakan konsekuensi-konsekuensi dari faktor-faktor biologis,
psikologis, dan sosial yang saling mempengaruhi. Namun, itu lebih praktis
ketimbang model Engel dengan adanya uraian spesifik dari aspek-aspek
psikososial dari fungsi manusia. Ini memungkinkan konselor untuk mengumpulkan
informasi spesifik selama penilaian untuk memformulasikan program konseling
yang tepat. Strategi-strategi intervensi berbeda dapat kemudian
digali/diselidiki terhadap target pada dimensi-dimensi atau modalitas-modalitas
berbeda dari masalah tersebut. Perhatikan kasus berikut mengenai seorang siswa
dimana tekanan studinya mempengaruhi fungsi hariannya.
Analisis BASIC ID-nya mengungkapkan bahwa ketika stres, ia cenderung agresif
terhadap anggota keluarga, guru, dan teman sekelas (behaviour). Ia bersifat
temperamental dan mempunyai derajat kecemasan yang tinggi dan kemarahan yang
tidak dapat dikontrol (affect). Ia tidak menganggap dirinya lulus ujian
(cognition) dan ketika tidur, sering memimpikan perasaan putus asa di depan
kertas tes yang kosong (imagery). Ia sering sakit namun dokter tidak bisa
menjelaskan gejala-gejala somatiknya (drugs/biological functions). Berkaitan
dengan jaringan pendukung sosial (interpersonal relationship), klien tersebut
tidak mempunyai banyak teman dan tidak berbagi masalah dengan para anggota
keluarganya.
Firing Order (urutan tembakan)
Dalam contoh kasus sebelumnya, analisis BASIC ID memberikan sebuah gambaran
deskriptif mengenai tekanan studi sang klien. Ketika kita mempertimbangkan itu
bersama-sama dengan faktor-faktor antiseden, presipitasi dan pemeliharaan
keluhan yang diajukannya, kita mampu untuk menentukan “firing order” dari
modalitas-modalitas tersebut. Firing order menunjuk pada interaksi diantara
modalitas-modalitas tersebut dan membentuk informasi yang berguna untuk tujuan
intervensi. Dalam contoh kasus tersebut, klien menyatakan bahwa:
Aku selalu tahu bahwa aku tidak akan bisa lulus ujian. Aku kemudian mempunyai
gambaran yang sangat hidup dalam benakku, melihat diriku berjuang di ruang
ujian. Saat itu, aku merasa panik dan cemas. Jantungku berdegup sangat kencang…
Reaksi stres klien dimulai dengan modalitas kognitif yang diikuti dengan
modalitas-modalitas imagery, affect, dan sensasi, ia diberikan saran berikut:
Ketika kamu pertama kali mengetahui pikiran-pikiran negatifmu, cobalah untuk
meminta dirimu sendiri untuk berhenti berpikir tentang itu dengan mengalihkan
ke sesuatu yang menyenangkan. Mulailah menggunakan tehnik-tehnik yang saya
ajarkan kepadamu untuk menyamarkan dan menghilangkan imej-imej tersebut dan
melakukan latihan relaksasi.
Namun, ia mungkin kurang bisa menerima saran ini jika reaksi stresnya dimulai
dengan tegangan otot (sensasi) diikuti dengan kecemasan (affect), imej visual
(imajery), dan pikiran-pikiran disfungsional (cognition). Ia dapat lebih
mungkin mendapatkan keuntungan dari targeting intervensi pada urutan S-A-I-C
ini. Secara ringkas, dengan menentukan firing order dari modalitas-modalitas
tersebut, kita dapat mengaplikasikan intervensi-intervensi berbeda untuk
memodifikasi, menginterupsi, dan merekondisi urutan tersebut. Sebelum berpindah
ke bagian selanjutnya, kami harus menekankan bahwa dalam beberapa kasus,
informasi untuk membangun sebuah profil BASIC ID tidak hanya didapatkan dari
klien namun juga dari para pengasuhnya, orang tua, saudara, teman, dan guru.
Ini khususnya umum terjadi dalam konseling para siswa yang lebih muda
(misalnya., sekolah dasar) dimana batasan-batasan bahasa dan kognitif mereka
tidak memungkinkan mereka untuk dengan jelas mempresentasikan masalah-masalah
mereka dalam profil BASIC ID penuh.
BASIC ID urutan kedua
Analisis BASIC ID awal memberikan sebuah profil umum atau makroskopis mengenai
masalah-masalah klien. Namun, karena umumnya klien mempresentasikan berbagai
masalah, maka penting untuk melakukan analisis BASIC ID urutan kedua. Dengan
mempertimbangkan contoh kasus sebelumnya, perilaku agresif yang diidentifikasi
dalam modalitas perilaku dapat lebih jauh diperbesar dalam hal pola-pola
perilakunya, emosi-emosi terkait, sensasi fisik dan reaksi fisik, imajinasi,
kognisi, hubungan interpersonal dan pertimbangan-pertimbangan biologis.
Dari penilaian ke intervensi
Sesudah menarik profil BASIC ID dari keluhan yang diajukan klien, konselor akan
mendesain sebuah program intervensi multimodal. MMT merupakan sebuah pendekatan
yang secara teknis diambil dari berbagai sumber yang dijalankan didalam sebuah
kerangka teoritis belajar sosial namun menarik strategi-strategi intervensi
dari teori-teori lain. Intervensi-intervensi tersebut termasuk hipnose, tehnik
kursi-kosong, meditasi, dan proyeksi-waktu, disamping tehnik-tehnik kognitif
dan perilaku standar (lihat Lazarus, 1989; Palmer, 2000). MMT telah
diaplikasikan untuk merawat gangguan psikologis dalam rentang yang luas
(Brunell, 1990; Eimer & Freeman, 1998; Lee, 1995; Palmer & Dryden,
1991; Williams, 1988) dan untuk klien-klien dewasan dan pemuda (Gumaer, 1990;
Keat, 1979; Lazarus, 2000; O’Keefer & Castado, 1985; Weikel, 1990).
Efektivitasnya telah ditunjukkan melalui uji coba klinis (Kwee dikutip dalam
Lazarus, 1989: 22; Williams, 1988).
ECOLOGICAL MULTIMODAL THERAPY
Mengkontekstualisasikan MMT dalam sebuah Kultur Kolektivistis
Walaupun MMT adalah sebuah kerangka pengobatan komprehensif dan sebuah terapi
perilaku spektrum-luas yang melebihi teori S-R sederhana, MMT terbatas karena
penekanan yang berlebihan pada peran faktor-faktor intra-individu di dalam
masalah-masalah emosional. Dari tujuh modalitas, enam diantaranya berkenaan
dengan faktor-faktor intra-individu (behaviour, affect, sensation, imagery,
cognition dan drugs/biological functions) dan hanya satu yang berkenaan dengan
hubungan-hubungan interpersonal. Bias terhadap faktor-faktor
intra-individualistis di dalam MMT (seperti dalam sebagian besar model-model
integratif dan diperoleh dari berbagai sumber) merefleksikan pandangan dunia
individualistis dan penafsiran diri independen (lihat Markus & Kitayama,
1991) mendasari psikoterapi-psikoterapi Barat. MMT menyederhanakan konten dari
dimensi interpersonal yang bersifat kompleks dalam kultur-kultur kolektivistis.
Pada masyarakat-masyarakat Asia, ada penekanan yang kuat pada saling
keterkaitan antara dua individu, dan memandang diri tidak terpisah dari konteks
sosial dan orang lain (Ho, 1995; Markus & Kitayaman, 1991; Sue & Sue,
1999). Pandangan dunia kolektivistis ini direfleksikan dalam jaringan kekerabatan
hirarkis kompleks yang diobservasi dalam kultur Asia, sebagai contoh, sebuah
sistem keluarga yang diperluas. Namun, apakah jaringan kekerabatan hirarkis ini
tetap eksis di masyarakat Asia moderen seperti Singapura?
Di tahun 2001, 85% orang Singapura tinggal di flat-flat
publik (Departemen Statistik) dan masing-masing flat tersebut tidak cukup besar
untuk mengakomodasi semua anggota dari keluarga yang diperluas. Namun, rasa
keterkaitan melebihi batasan fisik ini. Sebagaimana yang diobservasi oleh Quah
(1998:80), walaupun keluarga-keluarga di Singapura mungkin hidup dalam setting
keluarga inti dan rumah-rumah independen…adalah mungkin bahwa sikap baik
terhadap orang tua dan afeksi keluarga mempertahankan keluarga-keluarga inti
ini tetap bersama dalam sebuah jaringan hubungan-hubungan yang mempengaruhi dan
saling membantu yang disebut dengan keluarga diperluas yang dimodifikasi.
Sistem keluarga diperluas dimodifikasi ini merupakan opsi umum bagi perawatan
anak dan sumber bantuan yang umum (Quah, 1999). Ada beberapa implikasi
melakukan konseling dalam sebuah kultur kolektivistis. Pertama, orang-orang
Asia lebih mungkin untuk mengkonseptualisasikan masalah-masalah dan isu-isu
kehidupan mereka sebagai sosial dan relasional ketimbang intra-fisik dan
individu (Leung & Lee, 1996). Kedua, dibandingkan dengan orang-orang
Caucasia, orang-orang Asia lebih mungkin mencari bantuan dari anggota keluarga
dekat atau diperluas mereka namun lebih sedikit kemungkinan mencari bantuan
dari profesional kesehatan mental (Suan & Tyler, 1990; Sue & Sue,
1999).
Kami harus merubah satu hal pada
titik waktu ini. Diskusi kita sejauh ini tidak menyiratkan bahwa keterkaitan
interpersonal tidak penting dalam kultur Barat. Beberapa teoritikus Barat
menyadari basis sosial dari perilaku manusia (misalnya., Germain & Bloom,
1999). Namun rasa keterkaitan interpersonal lebih menonjol dan berkembang di
kultur Asia ketimbang di Barat.
Disamping alasan kultural untuk
kontekstualisasi MMT, ada juga alasan yang bagus untuk melakukan konseling
remaja dari sebuah perspektif ekologis. Ketika melakukan konseling remaja dan
siswa, tidak hanya konselor harus mempersepsi isu-isu remaja dan siswa dari
perspektif perkembangan seperti membedakan antara proses perkembangan normal
dengan psikopatologi (Prout, 1999), namun konselor harus juga menyadari
bagaimana konteks sosio-kultural membentuk dan membimbing proses perkembangan
remaja (Gardiner & Kosmitzki, 2002). Dalam konteks sosio-kultural ini ada
agen-agen yang melakukan sosialisasi seperti keluarga dekat, keluarga
diperluas, kelompok-kelompok teman, institusi-institusi sekolah dan religius,
yang sering terlibat dalam konseling remaja
.
Diskusi yang lalu menunjuk
pada kebutuhan untuk memperluas faktor hubungan interpersonal dari BASIC ID
untuk merefleksikan kompleksitas hubungan-hubungan manusia-lingkungan ketika
melakukan konseling di Singapura. Grup-grup sosial dan institusi-institusi berbeda
dapat dijelaskan sebagai dimensi-dimensi berbeda dari faktor hubungan
interpersonal, seperti dimensi-dimensi perilaku, afektif, atau kognitif dari
faktor intra-individu dalam MMT. Untuk melakukan ini, kami melakukan MMT dalam
sebuah kerangka ekologis, sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh
Bronfenbrenner (1979, 1992). Namun, mengikuti rekomendasi-rekomendasi Sue &
Sue (1999), kami harus memodifikasi model Bronfenbrenner sebelum
mengaplikasikannya di konteks Singapura karena apa yang disebut sebagai
properti-properti dalam sebuah sistem ekologis sebuah masyarakat tertentu
adalah secara sosiologis dibangun dan dibebani dengan nilai-nilai. Dengan
berakar pada pandangan dunia Barat, model ekologis dari Bronfenbrenner
mempersepsi sistem keluarga diperluas sebagai bagian dari ekosistem yang tidak
secara konseptual dekat dengan individu dan keluarga dekatnya. Karena alasan
ini, kami mempertimbangkan sebuah model ekologis alternatif yang dikembangkan
oleh Lee (1999) yang lebih relevan bagi dimensi-dimensi sosio-kultural di
Singapura. Dalam bagian berikut ini, kita mendiskusikan konsep-konsep kunci
dari ecological multimodal therapy (EMT) yang mengintegrasikan MMT dan model
ekologis Lee.
Konsep-konsep kunci dalam Ecological Multimodal Therapy
EMT mengadopsi sebuah pandangan holistik dimana orang dan lingkungan mereka
secara konstan berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Secara konseptual,
hubungan dinamis ini dapat digambarkan dalam sebuah profil ekologis yang
terdiri dari enam sistem (Figur 8.1): sistem natural-ekologis; sistem
makrososial; sistem mikrososial; sistem keluarga diperluas; sistem keluarga
dekat, dan sistem orang (misalnya., klien). Ada dua konsep kunci dalam EMT:
struktur dan fungsionalitas.
Struktur
Istilah struktur mengacu pada properti-properti yang menyusun sistem-sistem.
Sebagai contoh, properti-properti dari sistem keluarga dekat terdiri dari orang
tua dan saudara kandung, dan sistem mikrososial terdiri dari guru, teman, dan
kolega. Properti-properti dari sistem orang diambil dari konsep Lazarus
mengenai BASIC ID (1989), yaitu behaviour, affect, sensation, imagery,
cognition, dan drugs/biological functions. Mereka berfungsi sebagai sebuah unit
dimana didalamnya tidak ada satupun dapat dipahami kecuali dalam konteks
interaksi-interaksi resiprok mereka. Modalitas interpersonal dari BASIC ID
diperluas manakala orang tersebut dilihat sebagai bagian dari beberapa sistem
seperti sistem keluarga dekat.
Setiap sistem ekologis berada pada saat yang sama baik sebagian atau
keseluruhan. Sebagai contoh, klien adalah seorang individu yang unik dengan
karakteristik-karakteristik biologis dan psikologis yang khas dan juga bagian
yang tak terpisahkan dari keluarga, masyarakat, dan alam. Berkaitan dengan ini,
garis yang memisahkan sistem-sistem (lihat Figur 8.1) adalah artifisial karena
semua sistem (termasuk manusia) dan properti-properti respektif mereka adalah
tidak terpisahkan. Demarkasi tersebut dibangun dengan tujuan analisis yang
tepat untuk memberikan para praktisi suatu pendekatan yang struktural dan
sistematis terhadap konseling. Dengan melihat Fugur 8.1, orang dapat melihat
sebuah garis putus-putus yang memisahkan sistem keluarga dekat dan diperluas,
mengindikasikan sebuah ikatan yang kuat antara dua sistem tersebut dalam kultur
Asia.
Fungsionalitas
Istilah fungsionalitas mengacu pada peran dan tujuan dari properti-properti
tersebut, dan interaksi-interaksi mereka. Sebagai contoh, salah satu peran
institusi pendidikan adalah untuk menyiapkan para remaja untuk masa dewasa.
Semua sistem dan properti-properti respektif mereka berinteraksi dan
mempengaruhi satu sama lain. perubahan-perubahan dan gangguan-gangguan dalam
satu sistem atau diantara dua properti di dalam sebuah sistem akan menuntun
pada perubahan-perubahan dan gangguan-gangguan yang berhubungan di
sistem-sistem lain. kekuatan yang mempertahankan integritas dari semua sistem
disebut sebagai “kesetimbangan.” Sistem-sistem adalah dinamis dan dapat berubah
dari waktu ke waktu (karena itu disebut sebagai “fluiditas”). Mereka berkembang,
meningkat, dan tumbuh kearah kondisi setimbang. Namun, jika kesetimbangan tidak
terjadi, maka masalah-masalah akan muncul. Dalam sistem orang,
ketidaksetimbangan seperti itu dimanifestasikan dalam bentuk masalah-masalah
psikologis. Sebagai contoh, tumor otak merupakan satu faktor biologis yang
dapat menyebabkan halusinasi atau perilaku agresif. Pikiran-pikiran pesimistis
dapat berkaitan dengan kepercayaan diri yang rendah dan menuntun pada perilaku
maladaptif seperti penyalahgunaan obat dan penarikan diri dari sosial.
Ketika ketidakseimbangan dalam sistem orang dimanifestasikan sebagai
masalah-masalah psikologis, sebuah ketidakseimbangan dalam sistem makrososial
dimanifestasikan sebagai kegelisahan sosial atau pergolakan politis. Interaksi
antara orang tersebut sistem-sistem lain adalah bersifat dua arah. Pada satu
sisi, penyebab-penyebab masalah-masalah indivdiu dapat berasal dari
lingkungan-lingkungan sosial dan fisik seperti kematian orang lain yang
signifikan, tanggung jawab baru dalam kehidupan, resesi ekonomi dan polusi
udara. Pada sisi lain, institusi-institusi sosial dapat dipengaruhi oleh
masalah-masalah individu. Sebagai contoh, di AS tahun 1990, biaya
gangguan-gangguan mental, yang diestimasi menjadi US$150 milyar, menjadi
penghalang yang besar bagi masyarakat keseluruhan (Garske & Williams,
1999). Sekitar 47% nya adalah biaya langsung (perawatan psikiater dan medis)
dan 53% adalah biaya-biaya tidak langsung (gangguang sosial, pengangguran, dan
hilangnya produktivitas).
Diantara enam sistem tersebut, konsep sistem natural-ekologis memberikan
klarifikasi yang panjang. Konsep ini, sentral bagi pandangan orang Asia,
mempersepsi bahwa orang sebagai bagian tak terpisahkan dari alam.
Perubahan-perubahan alam, apakah baik atau buruk, menyebabkan perubahan-perubahan
pada manusia dan sebaliknya. Sebagai contoh, perubahan-perubahan musim dan
eksposur terhadap polusi udara dapat mempunyai implikasi-implikasi psikologis
besar seperti gangguan yang cenerung berat (Rosenthal dkk., 1984). Manusia
harus belajar untuk hidup dengan alam dan menjaga harmoni dengan alam.
Keinginan yang kurang menaruh perhatian untuk mengontrol alam melalui sains dan
teknologi akan menghasilkan tolakan ke belakang seperti masalah-masalah
lingkungan. Hubungan antara manusia dan alam juga transendental, konsen dengan
arti dan tujuan hidup, dan eksistensi umat manusia.
Dengan terhubung ke alam, para individu mampu untuk:
(a) mengurangi kesepian eksistensiil mereka;
(b) mengkultivasi aktualisasi-diri;
(c) mengurangi kecemasan akan kematian, dan
(d) mendorong apreasiasi dan penerimaan mereka mengenai,
dan kepedulian mereka terhadap
perasaan sesama manusia (Dubos, dikutip dalam Germain, 1999: 30).
Dalam hal ini,
orang dapat membentuk sistem natural-ekologis, khususnya hubungan manusia-alam,
dalam konteks religius dan spiritual. Istilah “alam” dan “ekologi” tidak
dilihat sebagai lingkungan fisik namun sebagai representasi sebuah sistem
pengaturan dimana tindakan-tindakan tersebut bermanfaat dan tidak acak. Bagi
beberapa orang, ini dapat disebut “Tuhan” atau “Surga.” Dalam terapi, para
klien religius dapat didorong untuk menemukan arti dalam hidup dengan mengarah
pada hubungan mereka dengan Tuhan atau bentuk makhluk yang lebih tinggi.
Sebagai contoh, seorang klien yang mempercayai nasib dapat berpikir bahwa naik
dan turun dalam hidup adalah diluar kendali manusia. Melalui bantuan spiritual
atau meditasi, ia dapat belajar mengenai arti dari eksistensinya dalam hubungan
dengan bentuk makhluk yang lebih tinggi. Ketimbang merasa frustasi, ia dapat
menjadi positif dan memperlakukan krisis hidupnya sebagai alur ke arah
pencerahan. Untuk diskusi lebih lanjut mengenai isu-isu religius dalam
konseling, para pembaca yang berminat dapat membaca di Richard dan Bergin
(2000), dan Shafranske (1997).
Adalah penting untuk mencatat bahwa struktur dan fungsionalitas profil-profil
ekologis adalah dibangun secara sosio-kultural. Mereka dapat bervariasi antar
kultur dan waktu. Sebagai contoh, properti-properti dari sistem kekeluargan dan
famili orang-orang Nayar di India (Oliver, 1981) berbeda dengan di Singapura.
Dalam masyarakat mereka, wanita yang menikah bebas memilih lebih dari satu
partner seksual dan mengetahui atau tidak mengetahui ayah dari anak-anaknya.
Peran ayah atau suami tidak penting bagi orang Nayar.
Implikasi-implikasi untuk Konseling
Adalah penting bagi konselor untuk mempertimbangkan bagaimana seorang klien
mengkonseptualisasikan profil ekologisnya dalam hal struktur dan
fungsionalitas. Seorang klien dapat memperlakukan teman-temannya sebagai
saudara kandung dan melihat mereka sebagai bagian dari anggota keluarga
dekatnya. Sementara yang lain merasa lebih dekat dengan gurunya ketimbang
dengan anggota keluarga dekatnya.
Profil ekologis dapat digunakan untuk memahami hubungan-hubungan interpersonal
klien, dan kekuatan-kekuatan serta kelemahan-kelemahan jaringan pendukung
sosialnya. Beberapa pertanyaan panduan yang dapat diajukan konselor ketika
menilai profil ekologis klien mencakup berikut ini:
1. Bagaimana masalah yang dikemukakan klien tersebut terkait dengan orang atau
institusi-institusi sosial lainnya?
2. Apakah sumber-sumber sosial yang dapat dimobilisasi untuk membantu klien
tersebut?
3. Kepada siapa (misalnya anggota keluarga, saudara, teman, profesional dan
penyembuh spiritual) yang akan dimintai tolong oleh klien ketika menghadapi
krisis?
4. Dapatkah kita meningkatkan kondisi klien dengan menegosiasikannya dengan
institusi-insitusi sosial terkait (misalnya otoritas-otoritas sekolah dan
rumah)?
5. Jika tidak dimungkinkan untuk mengubah sebuah situasi sosial (misalnya,
resesi ekonomi) dalam kondisi-kondisi yang berlaku, bagaimana kita dapat
membantu klien belajar untuk mengadaptasi ke situasi tersebut (misalnya,
memperoleh keahlian komputer untuk meningkatkan peluang kerjanya)?
Dalam bagian berikut ini, kami menggunakan sebuah kasus untuk mengilustrasikan
aplikasi EMT.
ILUSTRASI KASUS
Peter, 18 tahun, adalah seorang mahasiswa tahun kedua. Ia datang untuk
berkonsultasi dengan salah satu pengarang (B. O. Lee) karena kecemasannya
melindas seseorang di penyeberangan pejalan kaki ketika ia mengemudi.
Kecemasannya dimulai sekitar tiga bulan yang lalu namun ia tidak dapat
menjelaskan bagaimana itu dimulai. Kecemasannya nampaknya tidak dipicu oleh
apapun pengalaman tidak menyenangkan. Ia belum pernah secara pribadi mengalami
atau menyaksikan kecelakaan motor di penyeberangan pejalan kaki. Peter ingin
belajar untuk menghentikan perasaan cemas. Apa yang telah ia lakukan sebelum
perlakuan/perawatan adalah menghentikan mocil setelah melewati sebuah
penyeberangan pejalan kaki dan mengecek apakah ia telah melindas seseorang. Ia
mendapati bahwa metode ini kurang tepat dan memalukan khususnya ketika ia
bersama seseorang di dalam mobil.
Profil BASIC ID
Pada sesi pertama, sebuah analisis BASIC ID dilakukan mengenai sifat
kecemasannya untuk menemukan bagaimana ia bersikap dan merasakan dalam
peristiwa tersebut. Sampel pertanyaan-pertanyaan yang memandu analisis tersebut
diberikan dalam bagan di bawah ini.
Bagan 8.1
Sampel pertanyaan-pertanyaan untuk analisis BASIC ID Modalitas Sampel
pertanyaan-pertanyaan panduan :
Behaviour
Ketika mengemudi, apa yang anda lakukan ketika anda mendekati sebuah
penyeberangan pejalan kaki?
Affect
Emosi-emosi apa yang anda alami sebelumnya, selama dan sesudah
mengemudi melewati penyeberangan pejalan kaki?
Sensation
Apakah anda memperhatikan sensasi-sensasi fisik (misalnya tegangan dan rasa
sakit) menyertai emosi-emosi tersebut?
Imagery
Apakah anda mempunyai kilas balik dari pengalaman-pengalaman tidak
menyenangkan?
Cognition
Pikiran-pikiran apa yang anda punyai sebelum, selama, dan setelah
mengemudi melewati penyeberangan pejalan kaki?
Interpersonal relationships Ceritakan pada saya mengenai hubungan-hubungan anda
dengan orang lain (misalnya., pasangan, anggota keluarga, kolega, dan
teman-teman).
Drugs/biological functions Apakah anda minum obat untuk mengontrol kecemasan anda?
Apakah anda mempunyai keprihatinan terhadap status kesehatan anda?
Berdasarkan pada pertanyaan-pertanyaan tersebut, sebuah profil BASIC ID
diformulasikan, sebagaimana terlihat dalam bagan berikut ini:
Bagan 8.2
Profil BASIC ID Peter
Modalitas Deskripsi
Behaviour Sebelum mendekati sebuah penyeberangan
pejalan kaki, Peter akan memperlambat mobilnya. Setelah melewatinya, ia akan
menghentikan mobilnya untuk mengecek apakah ia telah melindas seseorang. Jika
kondisi-kondisi lalu lintas di jalan tersebut memungkinkan, ia akan keluar dari
mobil untuk melihat apakah seseorang terbaring di penyeberangan pejalan kaki.
Jika kondisi lalu lintas tidak memungkinkan, ia akan memparkir mobilnya di
tempat yang tepat (misalnya, dekat parkir mobil) untuk mengecek apakah ada satu
tubuh manusia yang terperangkap di bawah mobilnya.
Affect Peter merasa panik dan sangat tegang ketika ia mendekati
penyeberangan pejalan kaki karena takut melindas seseorang. Untuk mengurangi
kecemasan dan tegangan tersebut, ia harus berhenti dan mengecek apakah ia telah
melindas seseorang.
Sensation Ia berdebar-debar, otot-otot di leher dan
bahunya tegang, dan sakit kepala ketika ia merasa tegang dan panik.
Imagery
Sebelum mendekati sebuah penyeberangan pejalan kaki, ia akan membentuk sebuah
gambaran mental menabrak seseorang. Setelah melewati penyeberangan pejalan
kaki, ia akan secara mental melihat seseorang terbaring di penyeberangan
tersebut.
Cognition Ketika mengemudi, ia terus berpikit bahwa ia
akan mendapatkan kecelakaan dan membunuh seseorang di jalan, khususnya di penyeberangan
pejalan kaki.
Interpersonal relationships Peter mempunyai jaringan pendukung sosial yang buruk. Ia
tidak mempunyai banyak teman dan tidak dekat dengan para anggota keluarganya.
Ia kesepian dan mempunyai kepercayaan diri yang rendah. Walaupun ia ingin
mempunyai pacar, namun ia tidak merasa nyaman ketika berjumpa dengan lawan
jenis.
Drugs/biological functions Ia tidak melakukan pengobatan atas masalah-masalahnya.
Ia mempunyai kebiasaan makan yang buruk dan tidak melakukan olahraga fisik.
Firing Order dari Masalah Klinis
Analisis BASIC ID di atas menunjukkan bahwa masalah klinis Peter adalah multidimensional
dan tujuh modalitas tersebut berinteraksi satu sama lain dan
masing-masing tidak bisa diperlakukan secara terpisah. Sebagai contoh, ia
membentuk gambaran mental ketika ia memikirkan melindas seseorang di
penyeberangan pejalan kaki. Kecemasan, panik, dan otot yang tegang menyertai
imajinasi dan pikiran ini. Pengecekan yang dilakukannya untuk melihat apakah ia
telah melindas seseorang berperan sebagai sebuah fungsi untuk mengurangi
kecemasannya.
Perhatikan urutan atau firing order dari modalitas-modalitas tersebut (Figur
8.2). Kecemasan Peter dimulai dengan modalitas-modalitas cognitive dan imagery.
Ia berpikir, bersama-sama dengan sebuah gambaran mental, bahwa ia akan melindas
orang di penyeberangan pejalan kaki sebelum ia mendekati penyeberang tersebut.
Kemudian, ia mulai merasa tegang dan panik dengan banyak reaksi fisik
(berdebar-debar dan otot-otot yang tegang). Walaupun ia memperlambat mobilnya
karena takut mendapatkan kecelakaan ketika mendekati penyeberangan pejalan
kaki, ia tetap ragu-ragu apakah ia telah menabrak seseorang setelah melewati
penyeberangan tersebut. Ia menguraikan:
Saya mempunyai pikiran-pikiran irasional bahwa saya telah melindas seseorang.
Saya kemudian membayangkan seseorang terbaring disana. Untuk mengeceknya, saya
menghentikan mobil saya dan menoleh untuk melihat apakah ada satu tubuh
terbaring disana. Setelah melihat bahwa tidak ada seorangpun disana, saya
merasa lega sekali. Tegangan-tegangan awal yang saya dapat di leher dan
keseluruhan tubuh secara perlahan menghilang.
Kami mempunyai urutan modalitas atau firing order bagi masalah Peter: C-I-A-S-B-C-I-B-A-S. Perlu dicatat
bahwa ketika beberapa modalitas dipresentasikan dengan cara linier, yang lain
muncul secara bersamaan. Sebagai contoh, pikiran mula-mula melindas seseorang
muncul bersamaan dengan sebuah gambaran mental. Tambahan bersaman dari dua atau
lebih modalitas menunjukkan bahwa sebuah kombinasi tehnik seperti halnya
pikiran akan memblok bersama-sama dengan tehnik-tehnik pengendalian imajinasi
yang dapat digunakan untuk mengatasi pikiran-pikiran intrusif bergambar.
Figur 8.2
Firing order modalitas-modalitas
Sebelum penyeberangan pejalan kaki
C (cognition) =
“Saya akan melindas seseorang di penyeberangan pejalan kaki.”
I
(image) = Ia mempunyai sebuah gambaran mental bahwa ia akan melindas
seseorang.
A (affect) = Ia
merasa tegang dan panik.
S (sensation) = Ia
berdebar-debar, ototnya tegang, dan sakit kepala.
B
(behaviour) = Ia memperlambat mobilnya Sesudah penyeberangan pejalan kaki
C
(cognition) = “Saya telah melindas seseorang.”
I
(image) = Ia mempunyai sebuah gambaran mental bahwa ia telah melindas
seseorang.
B
(behaviour) = Ia menghentikan mobilnya dan mengeceknya apakah ia telah
melindas seseorang.
A
(affect) = Ketakutannya berkurang.
S
(sensation) = Berdebar-debar, otot tegang, dan sakit kepalanya
menghilang.
Profil Ekologis
Walaupun analisis BASIC ID memberikan beberapa data berguna untuk merencanakan
sebuah rencana intervensi, namun itu tidak lengkap. Kita tetap tidak punya
gagasan apapun mengenai mengapa Peter mengembangkan ketakutan irasional dan
perilaku kompulsif ini. Mereka tidak dapat diatribusikan pada
pengelaman-pengalaman sebelumnya, seperti terlibat dalam sebuah kecelakaan
mobil. informasi dari analisis ekologis, sebagaimana ditunjukkan dalam Bagan
8.3, memberikan sebuah gambaran yang lebih luas mengenai masalah-masalah yang
dipresentasikannya. Profil ekologis Peter mengungkapkan dua faktor tambahan
yang kemungkinan berhubungan dengan kecemasannya: faktor-faktor predisposing
dan precipitating. Faktor-faktor predisposing (Brems, 1999) adalah
faktor-faktor di dalam kehidupan seseorang yang dapat membuat ia rentan
terhadap perkembangan gangguan psikiatrik. Faktor-faktor tersebut tidak selalu
mempunyai hubungan kausatif dengan gangguan klinis. Faktor-faktor
precipitating, sebaliknya, adalah peristiwa-peristiwa yang memicu
keluhan-keluhan yang diajukan (Brems, 1999). Dalam kasus Peter, konflik orang
tuanya, jaringan pendukung sosial yang buruk, kesepian, kepercayaan diri yang
rendah, performansi akademik yang rendah, dan stres studi dapat disebut sebagai
faktor-faktor predisposing bagi masalah-masalah klinisnya sekarang.
Faktor-faktor tersebut terkait dengan berbagai institusi sosial dalam jaringan
ekologis Peter (lihat Bagan 8.3 dan Figur 8.3). Ancaman ayahnya untuk membatasi
kehidupan sosialnya dapat menjadi pemicu yang bertanggung jawab pada
kecemasannya. Bersama-sama, faktor-faktor predisposing menjadikan Peter lebih
rentan dan merespon lebih kuat pada presipitan (ancaman ayahnya).
Bagan 8.3
Profil Ekologis Peter
Sistem Deskripsi
Keluarga dekat Termasuk dirinya, keluarga
Peter terdiri dari empat anggota. Ayahnya (usia 56) adalah seorang pebisnis dan
ibunya (usia 50) adalah ibu rumah tangga. Orang tuanya mempunyai masalah
pernikahan selama bertahun-tahun dan hampir berakhir dengan perceraian. Saudara
laki-lakinya (usia 21) baru-baru ini dinas nasional. Peter dekat dengan ibunya
namun mempunyai konflik dengan ayahnya yang sangat tegas. Walaupun tidak
mempunyai masalah signifikan dengan saudara lelakinya, ia tidak dekat dengan
saudara laki-lakinya. Ketika ia mempunyai masalah-masalah pribadi, ia lebih
memilih membagikannya dengan ibunya.
Ia tidak berkonsentrasi pada studi-studinya dan mendapat nilai buruk dalam
ujiannya baru-baru ini. Ayahnya sangat marah dengan performansi akademiknya
yang buruk dan mengancam untuk menerapkan jam malam pada aktivitas-aktivitas
sosialnya. Yang menarik, sehari setelah peringatan dari ayahnya, Peter
mengembangkan kecemasan melindas seseorang di penyeberangan pejalan kaki.
Keluarga diperluas Ibu Peter juga mempunyai konflik dengan keluarganya sendiri,
khususnya ibunya yang menyalahkannya karena tidak mendukungnya secara
finansial. Konflik-konflik keluarganya mempengaruhi suasana hatinya yang pada
akhirnya mempengaruhi hubungan pernikahannya.
Sistem
mikrososial Peter hanya
mempunyai dua teman di sekolah, seorang wanita dan satu pria. Ia kesepian dan
mempunyai keyakinan diri yang rendah. Walaupun ia ingin mempunyai pacar tapi ia
sering merasa gugup ketika berada dihadapan lawan jenis.
Sistem
makrososial Peter meyakini bahwa performansi akademiknya yang buruk
terkait dengan kecemasan dan kehidupan sekolah yang menekannya. Ia tidak
berpikir bahwa ia dapat memenuhi permintaan dan ekspektasi tinggi para gurunya.
Ia merencanakan untuk bekerja setelah level A eksaminasinya.
Sistem natural-ekologis Peter tidak suka lingkungan fisik di Singapura yang ia
deskripsikan sebagai terlampau banyak dan penuh sesak. Ia meyakini bahwa ruang
fisik kecil disana sebagian bertanggung jawab pada stres-nya. Eksplorasi lebih
jauh mengenai ketidakpuasan lingkungan ini menunjukkan ketiadaan arti dalam
hidupnya. Mengindikasikan tidak adanya hubungan antara diri dan orang lain dan
lingkungan fisik.
Konseptualisasi Kasus
Menarik informasi dari BASIC ID dan analisis ekologis, beberapa hipotesis dimunculkan
mengenai masalah-masalah Peter. Masalah-masalah yang dihadapi Peter adalah
bahwa ketika mengemudi, ia merasa cemas dan takut melindas seseorang di
penyeberangan pejalan kaki. Setelah melewati penyeberangan ia menghentikan
mobilnya untuk mengecek apakah ia telah melindas seseorang. Perilaku pengecekan
ini mengurangi kecemasan dan ketakutannya. Pengurangan kecemasan dan dan
ketakutan memelihara perilaku pengecekan tersebut. Walaupun Peter tidak
mempunyai pengalaman sebelumnya (misalnya kecelakaan mobil) yang dapat berperan
dalam kecemasan dan ketakutannya, masalah yang dihadapinya tersebut nampak
terkait dengan beberapa faktor yang berinteraksi. Pertama, ia tidak mempunyai
jaringan pendukung sosial yang kuat dan suportif. Orang tuanya berada dalam disfungsi
pernikahan kronis yang sebagian disebabkan karena masalah keluarga ibunya
sendiri. Peter dekat dengan ibunya namun tidak dengan saudara laki-laki atau
ayahnya. Ia kesepian, tidak mempunyai banyak teman dan mempunyai kepercayaan
diri yang rendah. ia juga berada dibawah tekanan studi yang berat dan tidak
berencana melanjutkan studinya setelah level ‘A’ eksaminasinya. Peter
menyalahkan konflik orang tuanya, kesepian, dan tekanan studi sebagai penyebab
masalah-masalah klinisnya. Ia mengatakan:
Hidup itu menderita dan tak bermakna apa-apa. Saya tidak menemukan hidup di
negara ini sebagai suatu hal yang bermakna…Jika saya punya kesempatan saya mau
pergi ke tempat lain. Tapi kemana saya dapat pergi?
Perasaan ini makin kuat setelah pertengkaran dengan ayahnya yang sangat marah
dengan performansi akademiknya yang buruk dan mengancam membatasi kehidupan
sosialnya, termasuk tidak mengijinkannya untuk menggunakan mobil keluarga.
Setelah peringatan itu Peter mengembangkan masalah-masalah klinisnya.
Dengan melihat pada analisis-analisis diatas, nampak yang menjadi masalah
adalah ketidakseimbangan antara Peter dan lingkungan sosialnya (keluargam
sekolah dan lingkaran-lingkaran sosial) menjadikannya rentan dan bereaksi kuat
terhadap ancaman ayahnya yang pada akhirnya menuntun pada masalah klinisnya.
Peringatan ayahnya mungkin membuat ia merasa tidak berdaya dan tertekan, dana
menurunkan rasa kendali diri dan otonominya. Efek-efek psikologis tersebut
dapat kemudian bermanifestasi sebagai ketakutan melindas seseorang di
penyeberangan pejalan kaki, merepresentasikan ketidakpastian dan keragu-raguan
dirinya. Untuk mengendalikan kecemasan ini, Peter menghentikan mobilnya untuk
mengecek apakah ia melindas seseorang di penyeberangan pejalan kaki. Ritual
kompulsif ini mengurangi namun memelihara kecemasannya.