VISI
DAN MISI PENDIDIKAN
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan
manusia. Di manapun di dunia ini terdapat masyarakat manusia, dan disana pula
terjadi pendidikan. Walaupun pendidikan meruapakan gejala umum dalam kehidupan
masyarakat, namun perbedaan pandangan hidup, perbedaan falsafah hidup yang
dianut oleh masing-masing bangsa atau masyarakat menyebabkan adanya perbedaan
penyelenggaraan termasuk perbedaan tujuan pendidikan yang ingin dicapai suatu
bangsa atau masyarakat. Kegiatan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari yang
hendak dicapainya.
Tujuan pendidikan memiliki kedudukan yang menentukan dalam kegiatan
pendidikan. Tujuan pendidikan memiliki dua fungsi yatu : memberikan arah kepada
segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh
segenap kegiatan pendidikan.
Pendidikan
memang merupakan kegiatan manusia, namun bukan suatu kegiatan yang tanpa batas.
Banyak hal-hal yang membatasi pelaksanaan pendidikan, diantaranya tujuan
pendidikan yang menjadi arah yang harus dicapai oleh pendidikan. Berbicara
tentang tujuan pendidikan, maka seharusnya kita sebagai guru mampu mengetahui
dan mengaplikasikan visi, misi, tujuan dan asas-asas pendidikan dalam proses
pembelajaran di sekolah.
- Rumusan Masalah
Dari
latar belakang di atas dapat dirumuskan beberapa masalah, yaitu:
- Apa visi dan misi pendidikan itu?
- Apa saja dasar pendidikan itu?
- Apa saja tujuan pendidikan itu?
- Apa saja azas-azas pendidikan itu?
- Tujuan
Berdasarkan
latar belakang tersebut, maka dikemukakan tujuan sebagai berikut :
- Dapat mengetahui visi dan misi pendidikan
- Dapat mengetahui dasar pendidikan
- Dapat mengetahui tujuan pendidikan
- Dapat mengetahui azas-azas pendidikan
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1. Visi Pendidikan
Visi
adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode
perencanaan. Sedangkan pendidikan dapat diartikan sebagai suatu metode untuk
mengembangkan keterampilan, kebiasaan dan sikap-sikap yang diharapkan dapat
membuat seseorang menjadi lebih baik.
Pendidikan
mempunyai visi yaitu terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang
kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang
menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan
zaman yang selalu berubah.
Pendidikan
merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara
holistik, yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer di atas
dapat berkembang secara optimal. Dengan demikian, pendidikan seyogyanya menjadi
wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu, sehingga
cita-cita membangun manusia Indonesia seutuhnya dapat tercapai. Selain itu,
pembangunan pendidikan nasional juga diarahkan untuk membangun karakter dan
wawasan kebangsaan bagi peserta didik, yang menjadi landasan penting bagi upaya
memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka NKRI.
- Misi Pendidikan
Misi
adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk
mewujudkan Visi.
Dalam
rangka mewujudkan Visi Pendidikan Nasional dan sesuai dengan Undang- Undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Misi Pendidikan
Nasional adalah:
- mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan
memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia;
- membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak
bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka
mewujudkan masyarakat belajar;
- meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses
pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral;
- meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga
pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan,
pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global;
- memberdayakan peran serta masyarakat dalam
penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks
Negara Kesatuan RI.
2.3. Dasar Pendidikan
Dasar
pendidikan adalah pondasi atau landasan yang kokoh bagi setiap masyarakat untuk
dapat melakukan perubahan sikap dan tata laku dengan cara berlatih dan belajar
dan tidak terbatas pada lingkungan sekolah, sehingga meskipun sudah selesai
sekolah akan tetap belajar apa-apa yang tidak ditemui di sekolah. Hal ini lebih
penting dikedepankan supaya tidak menjadi masyarakat berpendidikan yang tidak
punya dasar pendidikan sehingga tidak mencapai kesempurnaan hidup. Apabila
kesempurnaan hidup tidak tercapai berarti pendidikan belum membuahkan hasil
yang menggembirakan. Dasar atau landasan pendidikan dapat dilihat dari berbagai
segi yaitu :
- Pandangan Islam
- Al-qur’an.
Al-qur’an
merupakan pedoman tertinggi yang manjadi petunjuk dan dasar kita hidup di
dunia. Dalam Al-qur’an kita bisa menemukan semua permasalahan hidup termasuk
pendidikan dan ilmu pengetahuan.
- Hadist
Hadist
merupan pedoman kita setalah Al-qur’an, dengan demikian hadist juga merupakan
dasar atau elemen dalam pendidikan.
- Secara Umum
- Religius
Merupaken
elemen atau dasar pendidikan yang paling pokok, disini ditanamkan nilai nilai
agama islam (iman, akidah dan akhlak) sebagai suatu pondasi yang kokoh
dalam pendidikan.
- Ideologis
Yaitu
mengacu kepada ideologi bangsa kita yakni pancasila dan berdasarkan kepada UUD
1945. Dan intinya adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
- Ekonomis
Pendidikan
bisa dijadikan sebagai suatu langkah untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan
keluar dari segala bentuk kebodohan dan kemiskinan.
- Politis
Lebih mengacu
kepada suasana politik yang berlansung.
- Teknologis
Dunia
telah mengalami eksplosit ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan bisa dikatakan
teknologi sangat memiliki peran dalam kemajuan dunia pendidikan.
- Psikologis dan Pedagogis
Tugas
pendidikan sekolah yang utama adalah mengajarkan bagaimana cara belajar,
mendidik kejiwaan, menanamkan motivasi yang kuat dalam diri anak untuk belajar
terus-menerus sepanjang hidupnya dan memberikan keterampilan kepada peserta
didik, mengembangkan daya adaptasi yang besar dalam diri peserta didik.
- Sosial Budaya
Mengacu
kepada hubungan antara individu dengan individu lainnya dalam suatu lingkungan
atau masyarakat. Begitu juga hal nya dengan budaya, budaya masyarakat sangat
berperan dalam proses pendidikan, karena budaya identik dengan adat dan
kebiasaan. Apabila sosial budaya seseorang itu berjalan baik maka pendidikan
akan mudah dicapai.
2.4. Tujuan Pendidikan
Tujuan
Pendidikan akan menentukan kearah mana anak didik akan dibawa. Disamping itu
pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu
kehidupan dan martabat manusia indonesia. Tujuan pendidikan dapat dilihat
dari dua sudut pandang yaitu menurut islam dan tujuan pendidikan secara umum.
A. Tujuan
Pendidikan Dalam Islam
Tujuan
pendidikan islam adalah mendekatkan diri kita kepada Allah dan pendidikan islam
lebih mengutamakan akhlak. Secara lebih luas pendidikan islam bertujuan untuk:
- Pembinaan Akhlak
- Penguasaan Ilmu
- Keterampilan bekerja dalam masyarakat
- Mengembangkan akal dan Akhlak
- Pengajaran Kebudayaan
- Pembentukan kepribadian
- Menghambakan diri kepada Allah
- Menyiapkan anak didik untuk hidup di dunia dan akhirat
B. Tujuan Pendidikan Secara
Umum
Tujuan pendidikan secara umum dapat
dilihat sebagai berikut:
- Tujuan pendidikan terdapat dalam UU No2 Tahun 1985
yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang
seutuhnya yaitu yang beriman dan dan bertagwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan kerampilan, kesehatan
jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa
tanggung jawab kemasyarakatan dan berbangsa.
- Tujuan Pendidikan nasional menurut TAP MPR NO
II/MPR/1993 yaitu Meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu
manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi
pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif,
terampil, berdisiplin, beretos kerja profesional serta sehat jasmani dan
rohani. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan
memepertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan
kesetiakawaan sosial, serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap
menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan.
- TAP MPR No 4/MPR/1975, tujuan pendidikan adalah
membangun di bidang pendidikan didasarkan atas falsafah negara pancasila
dan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangun yang berpancasila
dan untuk membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki
pengetahuan dan keterampilan yang dapat mengembangkan kreatifitas dan
tanggung jawab dapat menyuburkan sikap demokratis dan penuh tenggang
rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi
pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia
sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945.
Lavengeld dalam Sadulloh
(2006: 75-77) mengemukakan beberapa jenis tujuan pendidikan, yaitu :
- Tujuan Umum
Tujuan
umum merupakan sesuatu yang akhirnya akan dicapai oleh pendidikan.kedewasaan
merupakan tujuan pendidikan. Maka berarti semua aktivitas pendidikan harus diarahkan
kesana untuk mencapai tujuan umum tersebut. Semua manusia di dunia ini ingin
mencapai tuajuan itu, yaitu manusia dewasa. Jadi, jelasnya bahwa yang menjadi
tujuan umum pendidikan adalah kedewasaan.
- Tujuan Khusus
Tujuan
khusus diartikan sebagai suatu pengkhususan dari tujuan umum. Seperti
disebutkan bahwa tujuan umum kedewasaan adalah universal. Manusia dewasa yang
universal itu diberi bentuk yang nyata berhubung dengan kebangsaan, kebudayaan,
agama, system politik, dan sebagainya. Demikianlah manusia dewasa di Indonesia
memiliki ciri khas sesuai falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila.
Dalam
usaha membantu anak menjadi dewasa, selalu harus diperhitungkan keadaan-keadaan
yang khas, yang khusus dalam situasi pendidikan yang berlangsung. Beberapa
faktor yang harus di perhatikan dalam menentukan tujuan khusus ini diantaranya
ialah :
- Jenis kelamin anak didik.
- pembawaan anak didik.
- usia atau taraf perkembangan anak didik.
- Tugas lembaga yang mendidik anak seperti keluarga,
sekolah, masyarakat, masjid dan sebagainya.
- Falsafah Negara.
- Kesanggupan pendidik.
- Tujuan Insidental
Tujuan
insidental ialah tujuan yang menyangkut suatu peristiwa khusus. Boleh dikatakan
sukar mencari hubungan antara tujuan insidental dengan tujuan umum, namun sebenarnya
tujuan incidental tersebut terarah pada pencapaian tujuan umum. Contoh ibu
melarang anaknya bermain pintu terbuka, karena dapat menyebabkan kecelakaan
terjepit pintu misalnya, atau karena pintu merupakan arah masuknya angin, atau
menganggu lalu lintas orang yang lewat di pintu. Jelaslah tujuan insidental
sangat jauh dari tujuan umum pendidikan yaitu kedewasaan.
- Tujuan Sementara
Tujuan
sementara ialah tujuan yang terdapat pada langkah-langkah untuk mencapai tujuan
umum. Karena itu tujuan sementara lebih dekat kepada tujuan umum dibandingkan
dengan tujuan incidental seperti yang di jelaskan di atas. Tujuan sementara
merupakan titik perhatian sementara, yang merupakan persiapan untuk menuju
tujan umum. Tujuan sementara memberi kesempatan kepada pendidik untuk menguji
nilai yang dicapainya dengan perbuatan nyata.
Dari
kenyataan yang dialaminya diharapkan anak akan mngetahui kebenaran yang
sesungguhnya. Misalnya tujuan agar anak biasa bersih, setelah ia mengalaminya
berulang-ulang berbagai tingkat dan jenis kebersihan, maka ia diharapkan kelak
mengerti dan biasa hidup bersih. Kita membiasakan anak suka bersih, tidak buang
air kecil di sembarang tempat, membiasakan anak berbicara sopan, melatih anak
mengerjakan sesuatu yang bermanfaat dan sebagainya. Biasanya anak didik tidak
menyadari tujuan insidental dan tujuan sementara itu.
- Tujuan Tak Lengkap
Tujuan
tak lengkap ialah tujuan yang berkenaan dengan salah satu aspek pendidikan.
Disebut tidak lengkap karena setiap tujuan yang dihubungkan dengan lah satu
aspek pendidikan berarti tidak lengkap. Perlu di ketahui bahwa kita tidak boleh
mementingkan hanya salah satu aspek saja, sehingga mengabaikan aspek yang
lainnya. Aspek-aspek tujuan tak lengkap misalnya: Pendidikan Jasmani,
pendidikan social, pendidikan kesusilaan, pendidikan estetis dan sebgainya.
Contoh lain dari tujuan pendidikan tak lengkap misalnya kita hanya mengutamakan
ranah pengetahuan saja, tanpa secara terpadu mengambangkan ranah afektif dan
psikomotor.
- Tujuan Perantara(intermedier)
Tujuan
perantara ialah tujauan yang melayani tujuan pedidikan yang lain merupakan alat
atau sarana untuk mencapai tujuan yang lain khusunya tujuan sementara. Misalnya
anak dapat menulis merupakan pencapaian tujuan sementara, sedangkan anak
menguasai teknik menulis seperti cara memegang pensil, bagaimana menulis
huruf-hurufnya hal itu merupakan tujuan intermedier.
2.5. Azas-Azas Pendidikan
Asas
pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan
berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Khusu s di
Indonesia, terdapat beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang
dan melaksanakan pendidikan itu. Diantara asas tersebut adalah Asas
Tut Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan asas Kemandirian dalam
belajar.
1. Asas Tut Wuri
Handayani
Sebagai
asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti dari sitem Among perguruan.
Asas yang dikumandangkan oleh Ki Hajar Dwantara ini kemudian dikembangkan oleh
Drs. R.M.P. Sostrokartono dengan menambahkan dua semboyan lagi, yaitu Ing
Ngarso Sung Sung Tulodo dan Ing Madyo Mangun Karso.
Kini
ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yaitu:
·
Ing Ngarso Sung Tulodo ( jika di
depan memberi contoh).
·
Ing Madyo Mangun Karso (jika
ditengah-tengah memberi dukungan dan semangat).
·
Tut Wuri Handayani (jika di belakang
memberi dorongan).
Maksud
asas tut wuri handayani adalah sebagai pendidik hendaknya mampu menyalurkan dan
mengarahkan perilaku dan segala tindakan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan
yang dirancang.
Dalam
KTSP, guru bukan lagi sekedar “penceramah” melainkan pemberi dorongan,
pengawas, dan pengarah kinerja para peserta didik. Dengan sistem kurikulum yang
terbaru ini, para pendidik (guru) diharapkan mampu melejitkan semangat atau
motivasi peserta didiknya. Hal ini lantaran proses pengajaran dan pembelajaran
hanya akan berjalan lancar, efektif dan efisien manakala ada semangat yang kuat
dari para peserta didik untuk mengembangkan dirinya melalui pendidikan. Maka
bukan tidak mungkin, jika KTSP juga merupakan wujud manifestasi dari asas
pendidikan Indonesia “Kemandirian dalam Belajar.”
2. Asas
Belajar Sepanjang Hayat
Asas
belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi
lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education). Konsep belajar
sepanjang hayat sendiri telah didefinisikan dengan sangat baik oleh UNESCO
Institute for Education, lembaga di bawah naungan PBB yang terkonsentrasi
dengan urusan pendidikan. Belajar sepanjang hayat merupakan pendidikan yang
harus (1) meliputi seluruh hidup setiap individu, (2) mengarah kepada
pembentukan, pembaharuan, peningkatan, dan penyempurnaan secara sistematis, (3)
tujuan akhirnya adalah mengembangkan penyadaran diri setiap indiviu, dan (5)
mengakui kontribusi dari semua pengaruh pendidikan yang mungkin terjadi
(Cropley, 1970: 2-3, Sulo Lipu La Sulo, 1990: 25-26, dalam Tirtarahardja, 1994:
121).
Kurikulum yang dapat mendukung terwujudnya belajar sepanjang hayat harus
dirancang dan diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu dimensi
vertikal dan horisontal.
- Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi
keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan
keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan.
- Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu
katerkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di
luar sekolah.
Jika
diterapkan dalam sistem pendidikan yang berlaku saat ini, maka pendekatan yang
sangat mungkin digunakan untuk mencapai tujuan ini adalah melalui pendekatan
“Pembalajaran dan Pengajaran Kontekstual.” Sedang dalam konteks pendidikan di
Indonesia, konsep “Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual” sedikit banyak
telah termanifestasi ke dalam sistem Kurikulim Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP). Selain KTSP – yang notabene merupakan bagian dari pendidikan formal,
maka Asas Belajar sepanjang Hayat juga termanifestasi dalam program pendidikan
non-formal, seperti program pemberantasa buta aksara untuk warga Indonesia yang
telah berusia lanjut, dan juga program pendidikan informal, seperti hubungan
sosial dalam masyarakat dan keluarga tentunya.
3. Asas
Kemandirian dalam Belajar
Keberadaan
Asas Kemandirian dalam Belajar memang satu jalur dengan apa yang menjadi agenda
besar dari Asas Tut Wuri Handayani, yakni memberikan para peserta didik
kesempatan untuk “berjalan sendiri.” Inti dari istilah “berjalan sendiri”
tentunya sama dengan konsep dari “mandiri” yang dalam Asas Kemandirian dalam
Belajar bermakna “menghindari campur tangan guru namun (guru juga harus) selalu
siap untuk ulur tangan apabila diperlukan” (Tirtarahardja, 1994: 123).
Kurikulum
KTSP tentunya sangat membantu dalam agenda mewujudkan Asas Kemandirian dalam
Belajar. Prof. Dr. Umar Tirtarahardja (1994) lebih lanjut mengemukakan bahwa
dalam Asas Kemandirian dalam Belajar, guru tidak hanya sebagai pemberi
dorongan, namun juga fasilitator, penyampai informasi, dan organisator
(Tirtarahardja, 1994: 123). Oleh karena itu, wujud manifestasi Asas Kemandirian
dalam Belajar bukan hanya dalam berbentuk kurikulum KTSP, namun juga dalam
bentuk ko-kurikuler dan ekstra kurikuler – sedang dalam lingkup perguruan
tinggi terwujud dalam kegiatan tatap muka dan kegiatan terstruktur dan mandiri.
Dalam
bukunya “Contextual Teaching and Learning” Elanie B. Johnson (2009) berpendapat
bahwa dalam Pembelajaran Mandiri, seorang guru yang berfaham “Pembalajaran dan
Pengajaran Kontekstual” dituntut untuk mampu menjadi mentor dan guru ‘privat’
(Johnson, 2009: 177). Sebagai mentor, guru yang hendak mewujudkan kemandirian
peserta didik diharapkan mampu memberikan pengalaman yang membantu kepada siswa
mandiri untuk menemukan cara menghubungkan sekolah dengan pengalaman dan
pengetahuan mereka sebelumnya. Sebagai seorang guru ‘privat,’ seorang guru
biasanya akan memantau siswa dalam belajar dan sesekali menyela proses belajar
mereka untuk membenarkan, menuntun, dan member instruksi mendalam (Johnson,
2009).
Lebih
lanjut Johnson mengungkapkan bahwa kelak jika proses belajar mandiri berjalan
dengan baik, maka para peserta didik akan mampu membuat pilihan-pilihan positif
tentang bagaimana mereka akan mengatasi kegelisahan dan kekacauan dalam
kehidupan sehari-hari (Johnson, 2009: 179). Dengan kata lain, proses belajar
mandiri atau Asas Kemandirian dalam Belajar akan mampu menggiring manusia untuk
tetap “Belajar sepanjang Hayatnya.”
Perwujudan
asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalamperan utama sebagai
fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan yang memberikan peluang dalam
melatih kemandirian belajar peserta didik adalah sitem CBSA (Cara Belajar Siwa
Aktif).
BAB III
PENUTUP
- Simpulan
Pendidikan
dapat diartikan sebagai suatu metode untuk mengembangkan keterampilan,
kebiasaan dan sikap-sikap yang diharapkan dapat membuat seseorang menjadi lebih
baik. Pendidikan mempunyai visi yaitu terwujudnya system pendidikan sebagai
pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara
Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan
proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Sedangkan misi dari
pendidikan salah satunya adalah mengupayakan perluasan dan pemerataan
kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia
Dasar pendidikan
menurut islam fokus kepada Al-qur’an dan hadist sedang secara umum dasar
pendidikan juga lebih menitik beratkan ke dasar religius.
Tujuan
Pendidikan baik secara islam dan umum hampir memiliki kesamaan yaitu
mendapatkan kesuksesan. Apabila digabungkan maka tujuan pendidikan adalah upaya
untuk meraih kesuksesan hidup di dunia dan akherat.
Asas
dari pendidikan adalah Asas Tut Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang Hayat,
dan asas Kemandirian dalam belajar.
- Saran
Pendidikan merupakan salah satu
kebutuhan pokok dalam hidup manusia. Untuk mendapatkan pendidikan yang baik
maka perlu adanya pemahaman terhadap visi, misi, dasar, tujuan dan azas-azas
pendidikan secara mendalam baik secara islam maupun secara umum.
bagus semoga menjadi informasi yang berguna bagi dunia pendidikan khususnya bagi para praktisi pendidikan
BalasHapus