Logika
Sebuah studi tentang bagaimana kita beralasan dengan benar. Ini adalah sistem formal argumen terkait dengan struktur pernyataan dan argumen bukan isinya. Aristoteles adalah orang pertama yang menyajikan sebuah sistematis logika. Ia menjelaskan pengertian istilah-istilah seperti inferensi dan proposisi dan menguraikan bentuk argumen yang valid. Logika Aristoteles adalah ditafsirkan dan diatur oleh pemikir abad pertengahan dan logika formal menjadi penting dalam filsafat. Pada awal abad 18, Leibniz menyarankan bahwa logika dapat diuraikan menjadi perangkat pemecahan masalah universal yang didasarkan pada model matematika. Perbedaan pendapat bisa diselesaikan bukan dengan perdebatan tapi dengan perhitungan. Karyanya terinspirasi Boole dan Frege, yang pada gilirannya terinspirasi Russell dan Wittgenstein untuk mengembangkan sistem rumit logis modern. Kant menganggap prinsip-prinsip logika sebagai bagian dari kerangka pemahaman manusia (yang dibangun ke dalam pikiran manusia, bukan eksternal mengembangkan seperangkat aturan). Hal ini bermanfaat untuk diingat bahwa ahli logika bahkan mengakui bahwa logika sebagai bentuk penalaran tidak dapat menyebabkan penemuan-penemuan baru.
Logos
Kata "logos" memiliki banyak arti. Hal ini dapat berarti pikiran atau alasan. Hal ini diterjemahkan beragam seperti berpikir, kecerdasan,.
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2094827-pengertian-logika-dan-logos-dalam/#ixzz20yizibTT
Sebuah studi tentang bagaimana kita beralasan dengan benar. Ini adalah sistem formal argumen terkait dengan struktur pernyataan dan argumen bukan isinya. Aristoteles adalah orang pertama yang menyajikan sebuah sistematis logika. Ia menjelaskan pengertian istilah-istilah seperti inferensi dan proposisi dan menguraikan bentuk argumen yang valid. Logika Aristoteles adalah ditafsirkan dan diatur oleh pemikir abad pertengahan dan logika formal menjadi penting dalam filsafat. Pada awal abad 18, Leibniz menyarankan bahwa logika dapat diuraikan menjadi perangkat pemecahan masalah universal yang didasarkan pada model matematika. Perbedaan pendapat bisa diselesaikan bukan dengan perdebatan tapi dengan perhitungan. Karyanya terinspirasi Boole dan Frege, yang pada gilirannya terinspirasi Russell dan Wittgenstein untuk mengembangkan sistem rumit logis modern. Kant menganggap prinsip-prinsip logika sebagai bagian dari kerangka pemahaman manusia (yang dibangun ke dalam pikiran manusia, bukan eksternal mengembangkan seperangkat aturan). Hal ini bermanfaat untuk diingat bahwa ahli logika bahkan mengakui bahwa logika sebagai bentuk penalaran tidak dapat menyebabkan penemuan-penemuan baru.
Logos
Kata "logos" memiliki banyak arti. Hal ini dapat berarti pikiran atau alasan. Hal ini diterjemahkan beragam seperti berpikir, kecerdasan,.
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2094827-pengertian-logika-dan-logos-dalam/#ixzz20yizibTT
Sebagai ilmu, logika disebut
dengan logike episteme (Latin: logica
scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan
untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur[1].
Ilmu di sini mengacu pada
kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal
budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang
dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.
Logika merupakan sebuah ilmu
pengetahuan di mana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses
penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari
segi ketepatannya
Logika sebagai cabang
filsafat
Logika adalah sebuah
cabang filsafat yang praktis. Praktis di sini berarti logika dapat dipraktekkan
dalam kehidupan sehari-hari.
Logika lahir
bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk
memasarkan pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani
kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya.
Logika digunakan untuk
melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai
cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika. logika tidak bisa
dihindarkan dalam proses hidup mencari kebenaran
Dasar-dasar Logika
Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh
isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni
hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis).
Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik modern adalah
contoh-contoh dari logika formal.
Dasar penalaran dalam
logika ada dua, yakni deduktif dan induktif. Penalaran deduktif—kadang disebut logika
deduktif—adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif.
Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau
merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya. Argumen deduktif dinyatakan
valid atau tidak valid, bukan benar atau salah. Sebuah argumen deduktif
dinyatakan valid jika dan hanya jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis
dari premis-premisnya.
Contoh argumen deduktif:
1. Setiap mamalia punya
sebuah jantung
2. Semua kuda adalah
mamalia
3. ∴ Setiap kuda punya sebuah jantung
Penalaran induktif—kadang disebut logika induktif—adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.
Contoh argumen induktif:
1. Kuda Sumba punya sebuah
jantung
2. Kuda Australia punya
sebuah jantung
3. Kuda Amerika punya
sebuah jantung
4. Kuda Inggris punya
sebuah jantung
5. ∴ Setiap kuda punya sebuah jantung
Tabel di bawah ini
menunjukkan beberapa ciri utama yang membedakan penalaran induktif dan
deduktif.
|
Deduktif
|
Induktif
|
|
Jika semua premis benar maka kesimpulan
pasti benar
|
Jika premis benar, kesimpulan mungkin
benar, tapi tak pasti benar.
|
|
Semua informasi atau fakta pada
kesimpulan sudah ada, sekurangnya secara implisit, dalam premis.
|
Kesimpulan memuat informasi yang tak
ada, bahkan secara implisit, dalam premis.
|
Masa Yunani Kuno
Logika dimulai sejak Thales (624 SM - 548 SM), filsuf Yunani pertama yang meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita
isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam
semesta.
Thales mengatakan bahwa
air adalah arkhe (Yunani) yang berarti prinsip atau asas utama alam semesta.
Saat itu Thales telah mengenalkan logika induktif.
Aristoteles kemudian mengenalkan
logika sebagai ilmu, yang kemudian disebut logica scientica. Aristoteles mengatakan bahwa Thales
menarik kesimpulan bahwa air adalah arkhe alam semesta dengan alasan bahwa air adalah jiwa segala sesuatu.
Dalam logika Thales, air
adalah arkhe alam semesta, yang menurut Aristoteles disimpulkan dari:
§
Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan (karena
tanpa air tumbuhan mati)
§
Air adalah jiwa hewan dan jiwa manusia
§
Air jugalah uap
§
Air jugalah es
Jadi, air adalah jiwa
dari segala sesuatu, yang berarti, air adalah arkhe alam semesta.
Sejak saat Thales sang
filsuf mengenalkan pernyataannya, logika telah mulai dikembangkan. Kaum Sofis
beserta Plato (427 SM-347 SM) juga telah merintis dan memberikan saran-saran dalam
bidang ini.
Pada masa Aristoteles
logika masih disebut dengan analitica , yang secara khusus meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi yang benar, dan dialektika yang secara khusus meneliti argumentasi yang berangkat dari proposisi yang
masih diragukan kebenarannya. Inti dari logika Aristoteles adalah silogisme.
Buku Aristoteles to Oraganon (alat) berjumlah enam,
yaitu:
1. Categoriae menguraikan pengertian-pengertian
2. De interpretatione tentang keputusan-keputusan
3. Analytica Posteriora tentang pembuktian.
5. Topica tentang argumentasi dan metode berdebat.
6. De sohisticis elenchis tentang kesesatan dan kekeliruan berpikir.
Pada 370 SM - 288 SM Theophrastus, murid Aristoteles yang menjadi pemimpin Lyceum, melanjutkan
pengembangn logika.
Istilah logika untuk
pertama kalinya dikenalkan oleh Zeno dari Citium 334 SM - 226 SM pelopor Kaum Stoa. Sistematisasi logika
terjadi pada masa Galenus (130 M - 201 M) dan Sextus Empiricus 200 M, dua orang dokter medis
yang mengembangkan logika dengan menerapkan metode geometri.
Porohyus (232 - 305) membuat suatu pengantar (eisagoge)
pada Categoriae, salah satu buku
Aristoteles.
Boethius (480-524) menerjemahkan Eisagoge Porphyrius ke dalam
bahasa Latin dan menambahkan komentar- komentarnya.
Abad pertengahan dan logika modern
Pada abad 9 hingga abad
15, buku-buku Aristoteles seperti De Interpretatione, Eisagoge oleh Porphyus dan karya
Boethius masih digunakan.
§
Raymundus Lullus (1232 -1315) yang menemukan metode logika baru yang
dinamakan Ars Magna, yang merupakan semacam aljabar pengertian.
Pengembangan dan
penggunaan logika Aristoteles secara murni diteruskan oleh Thomas Hobbes (1588 - 1679) dengan karyanya Leviatan dan John Locke (1632-1704) dalam An Essay Concerning Human Understanding
Francis Bacon (1561 - 1626) mengembangkan logika induktif yang
diperkenalkan dalam bukunya Novum Organum
Scientiarum.
J.S. Mills (1806 - 1873) melanjutkan logika yang menekankan pada
pemikiran induksi dalam bukunya System of Logic
Lalu logika diperkaya
dengan hadirnya pelopor-pelopor logika simbolik seperti:
§
Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) menyusun logika
aljabar berdasarkan Ars Magna dari Raymundus Lullus. Logika ini bertujuan
menyederhanakan pekerjaan akal budi dan lebih mempertajam kepastian.
Lalu Chares Sanders Peirce (1839-1914), seorang filsuf
Amerika Serikat yang pernah mengajar di John Hopkins University,melengkapi logika simbolik dengan
karya-karya tulisnya. Ia memperkenalkan dalil Peirce (Peirce's Law) yang
menafsirkan logika selaku teori umum mengenai tanda (general theory of
signs)
Puncak kejayaan logika
simbolik terjadi pada tahun 1910-1913 dengan terbitnya Principia Mathematica tiga jilid yang merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (1861 - 1914) dan Bertrand Arthur William Russel (1872 - 1970).
Logika simbolik lalu
diteruskan oleh Ludwig Wittgenstein (1889-1951), Rudolf Carnap (1891-1970), Kurt Godel (1906-1978), dan lain-lain.
Logika sebagai matematika murni
Logika masuk ke dalam
kategori matematika murni karena matematika adalah logika yang
tersistematisasi. Matematika adalah pendekatan logika kepada metode ilmu ukur
yang menggunakan tanda-tanda atau simbol-simbol matematik (logika simbolik). Logika
tersistematisasi dikenalkan oleh dua orang dokter medis, Galenus (130-201 M)
dan Sextus Empiricus (sekitar 200 M) yang mengembangkan logika dengan
menerapkan metode geometri.
Puncak logika simbolik terjadi pada tahun 1910-1913 dengan terbitnya Principia Mathematica tiga jilid yang merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (1861 - 1914) dan Bertrand Arthur William Russel (1872 - 1970).
Kegunaan logika
1. Membantu setiap orang
yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap,
tertib, metodis dan koheren.
2. Meningkatkan kemampuan
berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
3. Menambah kecerdasan dan
meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
4. Memaksa dan mendorong
orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis
5. Meningkatkan cinta akan
kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpkir, kekeliruan, serta
kesesatan.
6. Mampu melakukan analisis
terhadap suatu kejadian.
7. Terhindar dari klenik ,
gugon-tuhon ( bahasa Jawa )
8. Apabila sudah mampu
berpikir rasional,kritis ,lurus,metodis dan analitis sebagaimana tersebut pada
butir pertama maka akan meningkatkan citra diri seseorang.
Macam-macam logika
Logika alamiah
Logika alamiah adalah
kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum
dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang
subyektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir. Logika ini bisa
dipelajari dengan memberi contoh penerapan dalam kehidupan nyata.
Logika ilmiah
Logika ilmiah menjadi
ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap
pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja
dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah, dan lebih aman. Logika ilmiah
dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi.
Referensi
1. ^ Pengantar Logika. Asas-asas
penalaran sistematis. Oleh Jan Hendrik Rapar. Penerbit Kanisius. ISBN 979-497-676-8
Pranala luar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar