ANALISIS PROSES KEBIJAKAN
A. Kompleksitas Proses Kebijakan
Proses kebijakan adalah
sangat rumit , sehinngga perlu adanya penyederhanaan yang disebut sebagai
model. Model adalah penyederhanaan suatu realitas yang sangat rumit dan
kompleks. Tujuan model adalah memberi gambaran suatu kompleksitas dalam bentuk
hubungan antara factor yang disederhanakan.Tujuan dari pembuatan model
kebijakan adalah agar supaya proses kebijakan mudah dipahami , dan analisis
yang dilakukan mempunyai pijakan teoritis.
Gambar
Model umum proses kebijakan
Enviroment
|
Policy
actors’ perception of enviroment
|
Govermental policy activity
|
Societal policy activity
|
Sumber. Ripley,Rondall B, 1985,Policy Analisis in Political Socience Nelson
Hall Publishers, Chicago,p.35
Dari model tersebut perlu dicatat
beberapa hal :
1. Lingkungan
dan persepsi actor terhadap lingkungan sebagian bersikap independen dan
sebagian lain beririsan. Variable
lingkungan serta persepsi para actor terhadap lingkungan yang dianggap penting,
kecenderungan , kejadian- kejadian yang dianggap penting,akan menjadi penyebab
suatu kebijakan.
2. Aktivitas
kebijakan terjadi di lingkungan pemerintah maupun lingkungan masyarakat , yang
tidak bisa dipisahkan satu samalain, yang saling berinteraksi didalam kontek lingkungan
dalam menetapkan aktivitas
kebijakan secara total. Contoh :
Klinik kesehatan dapat dibangun oleh pemerintah, tetapi tanpa aktivitas individu-individu dalam masyarakat
untuk menggunakan klinik itu , maka kebijakan tidak mungkin mewujudkan hasil.
3. Panah-panah
saling berhubungan dalam tiap variable menunjukkan bawa lingkungan dan persepsi actor
mempengaruhi aktivitas kebijakan
pemerintah dan masyarakat, dan activitas
kebijakan di pemerintah dan masyarakat juga memberi pengaruh pada lingkungan dan persepsi actor
terhadap lingkungan.
Menurut Repey factor utama dalam kebijakan adalah :
1.
Lingkungan meliputi:
A. Diluar
pemerintah yaitu :
social, ekonomi, politik, nilai, kepercayaan, factor-faktor
kerusakan alam ( gempa bumi, banjir, angin topan), factor pengrusakan(
terorisme)
B. Didalam
pemerintah :
Karakteristik struktur birokrasi atau
parlement, karakteristik personil, karakteristik pembuatan keputusan
C. Program-program
dan kebijakan spesifik
Suatu program akan terbentuk berdasarkan
pada program sebelumnya. Program akan mengalami perubahan aebagian kecil unit dalam suatu waktu .
D. Persepsi
dari actor-aktor kebijakan.
2.
Atifitas kebijakan pemerintah
A. Statemen-statemen
politik
Pernyataan pemerintah untuk melakukan
tindakan –tindakan tertentu, atau orientasi aparat mengenai apa yang akan
dilakukan dalam masyarakat.
B. Aksi
kebijakan ( implementasi )
Apa yang menjadi tindakan pemerintah
setelah suatu kebijakan /program dilegalisasikan oleh hokum.
3.
Aktivitas kebijakan social
A. Dalam
implementasi kebijakan, tidak seluruh
bagian masyarakat dapat mengambil bagian dalam pelaksanaan program, dan
memperoleh manfaatnya .
B. Akibat-akibat
kebijakan/program. Asumsinya bahwa
masyarakat akan terkena akibat dari kebijakan pemerintah, dan memang seharusnya
kebijakan itu berdampak pada masyarakat.
Untuk mengkaji implementasi
/dampak kebijakan , ada 2 model menurut
Ripley (1985) yaitu :
1. Model
Proses –Perseptual
2. Model
Struktural
Policy actors’
perception of policy-relevant envirommennt
|
Policy Action
|
Processes of
goverment
|
Sumber.
Ripley,Rondall B, 1985,Policy Analisis in Political Socience Nelson Hall
Publishers, Chicago,p.43
Keterangan:
1. Kita
dapat menguji memahami,member ekplanasi dari Agenda Building
2. Menguji
memahami dan member ekplanasi dari tahap awal dari Policy action
3. Mengakomodasikan
secara detail variasi-variasi dalam policy
action
4. Merupakan
model yang kuat dalam menilai proses decision
making secara menyeluruh
5.
Memiliki keterbatasan ketika
lingkup study lebih luas dan detail serta rigor
Gambar
Model Struktural
Eksternal
Enviromment
|
Internal Enviromment
|
Policy Action
|
Policy in
society
|
Sumber. Ripley,Rondall B, 1985,Policy Analisis in Political Socience Nelson
Hall Publishers, Chicago,p. 47
Model ini berfokus pada dampak dari lingkungan
eksternal dan internalterhadap aksi kebijakan dan akibat bagi policy result di masyarakat.
Kekuatan
model ini adalah: lebih cocok untuk meneliti kebijakan
yang berkelanjutan, dapat untuk memenuhi tuntutan perolehan data yang luasdan
rigor, bahwa studi kebijakan harus di cover dalam waktu yang lama.
Keterbatasan
model ini adalah: tidak cocok untuk studi agenda building, tidak dapat menguji
variasi-variasi program secara tepat, tidak dapat mengamati factor
politik,psikologi, dan persepsi.
B. Aktor-aktor
Analisi kebijakan
berfokus pada aktor-aktor. Jika politik diartikan sebagai siapa, melakukan apa,
maka proses kebijakan berarti satu bentuk kegiatan yang dilakukan actor politik
untuk memperoleh nilai politik.
Berbagai sebutan actor politik antara lain : Legislator, Eksekutif, Lembaga peradilan
Media massa, Kelompok penekan, Partai politik, Organisasi komunisme, Aparat
administrasi atau biroktasi, kelompok Non Govermentel Organization ( NGO),
kelompok swasta, kelompok think thank, dan Kabinet bayangan ( Anderso,
1979, Ripley 1985, Guy Peter dalam Sugiyono, 1993).
Aktor kebijakan di Indonesia dirinci sebagai berikut
:
· Lembaga
Kepresidenan
Terdiri:
Presiden, Wakil Presiden, Kabinet, serta
pejabat lainya di kantor kepresidenan.punya struktur yang kuat dalam
rekrutmen para policy maker yang berasal dari lingkunga eksekutif. Punya
resources yang kuat dalam bentuk dana yang digunakan untuk pelaksanaan
proyek-proyek pemerintahan. Punya sumber dukungan aparat yang powerfull.
·
Dewan
Perwakilan Rakyat
Merupakan
penentu rancangan kebijakan, dan mempunyai model representativitas poitik yang
bisa membentuk opini politik.
· Lembaga
Yudikatif, berwenang melakukan ajudigasi pada implementasi
kebijakan dan pada giliranya menjadi masukan untuk formulasi
· Birokrat:
punya keahlian pengetahuan tentang institusi serta paran pentingnya dalam
implementasi kebijakan.
· Partai
Politik, menggalang opini public yang berguna melontarkan
isi-isu yang akan dikembangkan dalam agenda setting dan menjalankan fungsi
politik dalam prosses kebijakan
·
Kelompok-kelompok
kepentingan berfungsi menyalurkan isu-isu public
dalam proses agenda setting
· Media
massa, terlibat dalam semua tahap kebijakan karena
sebagai komunikator antar apemerintah dan masyarakat, merupakan agen yang
efektif dalam membentuk opini public,dan berperan dalam agenda setting,
mendiseminasikan kebijakan, maupun monitoring implementasikan kebijakan.
· Kelompok
intelektual Kampus, dan
non kampus, actor yang terlibat dalam proses kebijakan, agenda setting dan
evaluasi serta membentuk opini public .
Ada dua persepektif :
Elit dan Politisi – Birokrat. Elit kebijakan adalah actor yang yang terlibat penting
dan pengaruh yang kuat dalam proses kebijakan.
Struktur pengaruh dalam kebijakan dapat dilihat dalam table berikut:
Tabel. Struktur Kekuasaan
Kelompok
Pembuat Kebijaksanaan
|
Jabatan-jabatan
Resmi Utama
|
Kaum
berpengaruh
|
Penasehat
pembuat keputusan baik opini dan menetapkan sanksi, birokrat tingkat tinggi ,
great landloard, industrialis, banker, dan lain actor yang pengaruhnya
implicit kuat
|
Aktivis
|
Anggota
partai politik, birokrat tingkat menengah, editor surat kabar
|
Publik
peminat politik
|
Orang-orang
yang sangat tertarik dengan kehidupan politik tetapi tidak masuk medan
politik
|
Kaum
pemilih
|
Voters
: pengaruhnya ketika pemilu
|
Non
partisipan
|
Sekedar
obyek politk, bukan actor
|
Sumber.
Diringkas dari Mohtar Mas Oed dan Colin Macandrewa(eds),1982, Perbandingan Sistem Publik. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta, hal 77-84
Alberbach
et.al(1981) menjelaskan bahwa politisi dan birokkrat sama-sama punya peran
penting dalam proses kebijakan. Antara tahun 1870-1970 terjadi peningkatan
kekuasaan politisi dari partai dan para pegawai negeri dalam perumusan
kebijakan. Masa lalu parlemen dan cabinet dieropa terdiri dari politisi amatir,
satu abad kemudian diganti posisinya oleh orng dari kalangan menengah dan para
pekerja. Menurut Max Weber, ada dua
actor penting dimasa yang akan dating yaitu para politisi professional dari
kalangan partai politik dan para administrator profesionalisme. Perkembangan
peran Politisi-Birokrat dapat dilihat pada table .
Table
Perkembangan Peran Politisi-Birokrat
IMAGE
|
POLITISI
|
BIROKRAT
|
EKSPRESI
|
·
Kebijakan
/Administrasi
|
·
Membuat
Kebijakan
|
·
Melaksanakan
Kebijakan
|
·
Hirarki
otoritas.
·
Supremasi
politik
|
·
Fakta
atau kepentingan
|
·
Kepentingan
nilai
·
Kepekaan
politik
·
Pertanggung
jawaban pada konstituen
|
·
Fakta/
pengetahuan
·
Keahlian
·
Kemanjuran
Teknis
|
·
Partisipsn
·
Rasionslitas
politik vs Rasionslitas administrasi
|
·
Energi/
Equibrium
|
·
Artikulasi
secara luas
·
Idiologi
partisipasi idialistik
·
Energik
|
·
Artikulasi
kepada klien
·
Hati-hati,
terpusat , pragmatis
·
Memberi
keseimbangan
|
·
Partisipan
·
Birokrat
cenderung politis
|
Hibrida murni/
perkawinan murni
|
·
Sama
( karakteristik berbaur)
|
·
Sama
( karakteristik berbaur)
|
·
Mempolitisasi
birokrasi dan membirokrasikan politik
|
Tabel
Peran Politisi-Birokrat dalam Beberapa Element Tahapa Kebijakan
IMAGE I
|
IMAGE II
|
IMAGE III
|
IMAGE IV
|
|
Implementasi
Kebijakan
|
Birokrat
|
Birokkrat
|
Birokkrat
|
Birokkrat
|
Formulasi
Kebijakan
|
Politisi
|
Keduanya
|
Keduanya
|
Keduanya
|
Broker
Kepentingan
|
Politisi
|
Politisi
|
Keduanya
|
Keduanya
|
Artikulasi Ide
|
Politisi
|
Politisi
|
Politisi
|
Keduanya
|
Perkembangan Kedua
Aktor diatas adalah:
· Dalam tahap inisiasi kebijakan pengaruh
birokrat tingkat tinggi cukup besar
· Politis memainkan peranan lebih penting
dalam manajemen konflik dibandingkan birokrat, khususnya dalam mengatur konflik
yang terjadi di parlemen dan partai politik
· Dalam proses perencanaan koordinasi dan
pembuatan anggaran peranan birokrat sangat penting. Politisi mempunyai peran
potensial dalam alokasinya pada proses kebijakan
·
Baik birokrat dan politisi berperan
penting dalam implementasi kebijakan. Namun peran birokrat tetap lebih utama.
C. Nilai
Adalah sesuatu yang
dianggap bermanfaat bagi masyarakat. Jammes Anderson menggolongkan nilai dalam lima kelompok yaitu: Nilai-nilai
politik, nilai-nilai Organisasi, nilai-nilai Pribadi, nilai-nilai Kebijakan,
nilai-nilai Idiologi. Imawan(2000) dan Islamy(2000) mengetengahkan adanya
norma-norma yang berlaku dalam masyarakat sebagai nilai-nilai kebijakan.
Nilai Politik:
menunjukkan pada kepentingan –kepentinga kelompok politik tertentu.para actor
dalam mengambil kebijakan akan menguntungkan partainya sendiri. Misal dalam
Undang-undang partai politik dan pemilu, sarat dengan muatan nilai politik.
Nilai Organisasi sering
kali mempengaruhi para birokrat dalam berbagai tahapan kebijakan.para actor yng
posisinya tinggi menekankan nilai-nilai seperti efisiensi, efektivitas,
imbalan, sanksi, serta hak-hak istimewa mereka kepada aparat yang ada dibawah
mereka, nilai untuk mempertahankan organisasinya agar tetap hidup dengan
menekankan nilai loyalitas.
Nilai Pribadi bisa
menyangkut kepentingan ekonomi atau reputasi pribadinya. Upaya memenuhi nilai
pribadi bisa jadi menutup mata actor terhadap konsekwensi kebijakan dimasa yang
akan datang misalnya konsekwensi rusaknya lingkunganakibat tata perumahan yang
tdk ramah lingkungan.
NIlai kebijakan yang
menunjukkan pada nilai-nilai yang menjadi pertimbangan actor memang benar-benar
ditujukan demi kebaikan kebijakan yang akan diputuskan. Kebijakan piblik
bertujuan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan public.misalnya nilai
pemberantasan korupsi, persamaan warga dihadapan hokum, HAM
Nilai Idiologi, nilai
yang dipertimbangkan dalam proses kebijakan, sebagai pedoman dalam tingkah laku
masyarakat,misalnya idiologi pancasila, Nasionalisme, Islam,Tradisionalisme
jawa. Idiologi dapat terlihat dalam aspek normative/ isi kebijakan dan aksi
kebijakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar